Talas Beneng dari Malang Tembus Ekspor ke Eropa

0
859
views

MALANG-KADENEWS.COM: Talas besar dan koneng (beneng) menjadi ikon  Kabupaten Malang, Jawa Timur. Potensinya yang sangat besar membuat sumber karbohidrat ini kian diminati petani.

Tak hanya itu, umbi talas mudah diolah, sehingga banyak dilirik industri pengolahan talas. Seiring meningkatnya permintaan dan dikukuhkan talas beneng sebagai produk khas Kabupaten Malang, perkembangan budidaya talas beneng dari tahun ke tahun terus meningkat.

MB Tanjung pengurus Garda Mencegah dan Mengobati (GMDM) Kabupaten Malang mengatakan, luas tanaman talas beneng pada tahun 2009 hanya 22 hektar (ha),  namun pada 2019 meningkat pesat seluas  435 ha dengan populasi 1.000-3.000 pohon per ha.

KHAS: Ciri umbi talas beneng berwarna kuning>

Pegiat talas beneng, Sunaryo menjelaskan selain sebagai sumber pangan, talas beneng dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri. Misalnya sebagai bahan baku kosmetik. Bahkan peminatnya di pasar ekspor sangat besar.

“Saat ini talas beneng masuk ke pasar Eropa dan Negeri Kincir Angin, Belanda rutin mengimpor talas beneng dalam bentuk bubur talas,” ujar Sunaryo yang juga pengurus GMDM Kabupaten Malang itu.

Menurut Sunaryo talas beneng berbeda dengan talas lainnya. Talas beneng umbi batangnya berukuran panjang dan besar, serta tumbuh di atas permukaan tanah. Karena ukurannya cukup besar, talas beneng potensial untuk diolah menjadi tepung.

AUDENSI: Pengurus GMDM Kabupaten Malang usai bersama Bupati Malang HM Sanusi (tengah).

Pegiat talas beneng lainnya, Sudirman menjelaskan, pengolahan menjadi tepung telah dilakukan sejak tahun 2010. Pengolahannya melibatkan petani, baik sebagai pemasok bahan maupun pelaku usaha.

Hingga tahun 2018, lanjut Sudirman, jumlah produksi tepung terus meningkat. Misalnya,  Oktober  2014 hanya 20 ton per bulan, Juni 2015 naik sebesar 7 ton per bulan,  Mei-Juni  2016 sebanyak 40 ton per bulan.

Sudirman membandingkan kelebihan tepung talas dengan tepung terigu adalah tidak mengandung gluten atau non gluten. Gluten merupakan protein yang biasa ditemukan pada biji-bijian seperti gandum.

“Pada sebagian orang gluten menimbulkan alergi. Jika setiap kali mengonsumsi roti, sereal gandum, atau pasta, maka bisa berakibat gatal, ruam ataupun gejala khas alergi,” ujar Sudirman yang juga Ketua GMDM Kabupaten Malang.

Salah satu pencegahannya alergi, kata Sudirman, adalah mengonsumsi makanan yang bebas gluten, termasuk mengonsumsi tepung gluten free. Karena itu dengan makin tingginya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, kini industri makanan berlomba mengolah aneka kudapan berbahan tepung non gluten, salah satunya tepung talas.

“Saat ini industri olahan berbahan tepung talas tersebar di berbagai wilayah. Di Kabupaten Malang Raya ada sekitar 14 pengusaha di Dampit, Batu, Lawang, Bululawang masing–masing satu industri,” jelasnya.

Sudirman menjelaskan, tidak hanya umbinya, daun talas beneng pun kini menjadi komoditas ekspor. Tidak kurang dari 70 ton per bulan daun talas iris kering masuk ke Australia.

“Untuk daun talas beneng iris kering untuk memenuhi kebutuhan Australia melalui Jember permintaannya mencapai 200 ton per bulan. Namun baru terpenuhi kurang lebihnya 90 ton per bulan,” ujarnya.

Dengan besarnya permintaan talas beneng, Sudirman melihat potensi talas beneng untuk dikembangkan masih sangat besar, terutama untuk aneka pangan lokal yang kini banyak merebak di berbagai daerah.

“Apalagi talas jenis ini mengandung protein yang lebih tinggi dan memiliki warna kuning yang menarik. Ciri itu tidak dimiliki talas lain,” ujarnya.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang Dr. Budiar Anwar

Dalam kesempatan berbeda, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Dr. Budiar Anwar menilai dalam  pandemi Covid-19 hanya bisnis di sektor pertanian yang tetap mampu untuk unggul di pasar. Sebab pasokan pangan terus dibutuhkan untuk konsumen dunia.  “Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi produsen berbagai komoditas,” ujarnya.

Bahkan Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian kini tengah menyiapkan konsep komoditas unggulan (benih dan bibit). Konsep ini meliputi berbagai komoditas andalan yang perlu dikembangkan.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang semester I 2020, dari empat sektor, hanya pertanian yang mengalami kenaikan. Ekspor pertanian mencapai 1,71 miliar dolar AS atau naik 9,6 persen dibanding semester I 2019 yang sebesar Rp 1,56 miliar dolar AS.

Budiar Anwar mengatakan untuk meningkatkan produktivitas, yang pertama adalah inovasi teknologi, sarana dan prasarana serta kebijakan peraturan perundangan. Tak kalah penting adalah SDM pertanian.

“Inovasi teknologi harus betul-betul diimplementasikan seluruh insan pertanian, praktisi, pengusaha pertanian,” apalagi masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini,” pangkasnya. (sam/ian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here